Loading

Sunday, June 12, 2011

SARANA-SARANA DA'WAH (MEANS OF DA'WAH)

Sarana-Sarana Dakwah

Seorang teman berkata bahwa ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk berdakwah, karena dia bukan seorang yang faqih dan bukan seorang yang tahu banyak tentang metode dakwah. Adapun hadits-hadits Rasul saw yang terkait dengan dakwah yang telah dibacanya merupakan sebuah berkah. Ia tidak tahu bahwa barakah harus berbuah, dan buah dari barakah adalah produktivitas.

Rasulullah s.a.w bersabda,

"Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah."

Jadi, jika Anda tidak tersenyum pada wajah saudara Anda, maka Anda tidak mendapatkan pahala sedekah itu. Jika setiap muslim mau memberi senyum tatkala bertemu dengan saudaranya sesama muslim, kita akan menemukan sebuah masyarakat muslim yang berwajah cerah dan saling mencintai. Inilah barakah dari sebuah senyuman yang tulus. Allah. pernah menegur Rasulullah saw tatkala beliau bermuka masam saat ditemui oleh Ibnu Maktum ra. Allah berfirman,

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa )."(' Abasa :1-3)

Dari contoh ini Anda akan mengetahui bahwa setiap yang datang dari Rasulullah adalah metode dakwah dan manhaj tarbiyah. Marilah kita mengambil salah satu contoh dari hadits-hadits berikut yang mengajarkan tentang sarana dan metode dakwah yang mudah dipelajari dan diterapkan oleh para da'i. Anda akan melihat bahwa pelajaran-pelajaran itu sangat gamblang dan akan menyadari bahwa daya tangkap kita lah yang memang belum sampai.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, "Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam: jika bertemu maka berilah salam, jika tidak terlihat maka cari tahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan 'yarhamukallah', dan jika meninggal maka kirimkanlah (ke pemakaman). "

Pertama, jika bertemu maka berilah salam Mengucapkan salam adalah langkah pertama, akan semakin mantap jika diikuti dengan berjabat tangan. Ucapan salam harus disertai dengan perasaan cinta, senang, dan wajah yang berseri agar fungsi ucapan salam itu terwujud. Setelah itu saling memperkenalkan nama, pekerjaan, dan tempat tinggal. Dengan demikian Anda telah menapaki tahap awal dalam berdakwah.

Kedua, jika tidak terlihat maka cari tahulah Watak sebuah perkenalan adalah jika seseorang yang telah Anda kenal itu tidak Anda lihat dalam waktu tertentu, maka Anda harus mencari kabar tentang keadaannya atau menghubunginya, baik melalui telepon maupun surat.

Ketiga, jika sakit maka jenguklah Sunnatullah akan terjadi pada setiap orang, maka suatu saat ia akan merasa gembira, sedih, atau sakit; dan setiap kondisi harus disikapi dengan sikap yang islami. Jika Anda mendengar bahwa teman Anda sakit, Anda harus cepat-cepat menjenguknya, memberikan kesejukan, dan mendoakan untuk kesembuhannya; akan sangat baik lagi jika Anda membawa hadiah yang sesuai.

Rasulullah s.a.w bersabda,

"Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hadiah itu akan menjadikan kalian saling mencintai." (HR. Malik dalam "Al-Muwatha" ')

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah s.a.w bersabda,

"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya sesama muslim karena Allah, maka malaikat akan berseru kepadanya, 'Kamu dalam keadaan baik dan baik pula tempat tujuanmu, kamu pun akan ditempatkan di surga.'" (HR. Muslim)

Di tempat teman Anda tersebut, Anda pun dapat berkenalan dengan teman-temannya. Dengan demikian Anda akan semakin banyak memiliki kontak. Jangan sampai kunjungan itu Anda pergunakan untuk membaca quran, majalah, atau berbicara yang tidak ada gunanya, agar tujuan kunjungan tersebut dapat terwujud. Jika Anda masuk rumahnya, harus Anda duduk di mana Anda dipersilakan duduk. Hadits dalam sebuah atsar,

"Barangsiapa masuk rumah salah seorang di antara kamu maka duduklah di tempat tersebut, karena kaum itu lebih mengetahui aurat rumah mereka." (HR. Thabrani)

Keempat, jika ia mengundangmu maka penuhilah Setelah melewati tahapan-tahapan di atas maka hubungan antara kalian akan semakin erat. Suatu saat teman Anda akan mengalami kondisi-kondisi penting, seperti sukses dalam tugas, pernikahan, atau yang lainnya, lalu ia mengundang Anda untuk menghadiri acara-acara tersebut. Anda harus memenuhi undangan tersebut karena ini merupakan kesempatan berharga yang tersedia tanpa harus Anda rencanakan sebelumnya.

Begitu juga sebaliknya, Anda pun harus mengundangnya dalam acara-acara penting yang Anda adakan.

Kelima, jika ia bersin dan mengucapkan "hamdalah" maka jawablah (ucapkan "yarhamukallah") Duduk samping orang yang belum dikenal di suatu tempat, baik di perjalanan, pesta, maupun tatkala menjenguk orang sakit, lalu orang yang duduk di sebelah Anda itu bersin maka harus Anda menoleh kepadanya dengan wajah berseri seraya mengucapkan, "yarhamukallah (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Anda)." Tentunya hal ini akan menjadikan dirinya merasakan sesuatu yang baru dan setelah itu Anda dapat berbicara dengannya.

Keenam, jika ia meninggal maka mengantarkan ke tempat pemakamannya Apa yang dapat ia lakukan setelah meninggal dan dikubur? Pada hakikatnya, mengantar orang lain yang meninggal ke tempat pemakaman adalah mengantar dirinya sendiri, yang ia akan dapat mengambil nasihat, pelajaran, dan merenungkannya. Ini sebuah sunah Rasulullah saw yang menggambarkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Jika sebelumnya Anda dapat mengenal pribadi orang yang telah meninggal dunia, maka sekarang Anda dapat menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan keluarganya dan orang-orang yang ta'ziah ke rumahnya.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah s.a.w bersabda,

"Barangsiapa menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Barangsiapa menyaksikan sampai di makamkan, maka baginya dua qirath." Seorang sahabat bertanya, "Apakah dua qirath itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." (Muttafaqun 'Alaih)


ENGLISH:

Means of Da'wah

A friend said that he felt did not have the ability to preach, because he is not a faqih and not someone who knows a lot about the methods of propaganda. The hadiths of the Prophet related to the mission that has been read is a blessing. He did not know that blessings should be fruitful, and blessed is the fruit of productivity.

Prophet s.a.w said,

"Smile on your brother's face is charity."

So, if you do not smile on your brother's face, then you do not get the alms that reward. If any Muslim willing to give a smile when he met with fellow Muslim brothers, we'll find a bright-faced Muslim community and love each other. This is the blessings of a sincere smile. God. never rebuked the Prophet when he was surly when found by Ibn Maktum ra. Allah says,

"He (Muhammad) frowned and turned away, Because there came to him the blind man. Do you know maybe he might grow (in spiritual )."(' Abasa :1-3)

From this example you will know that any who come from the Prophet is the method of preaching and manhaj tarbiyah. Let us take one example from the following hadiths that teaches about the means and methods of propagation are easily learned and applied by the preachers. You will see that the lessons were very clear and will realize that our perception is that it has not arrived.

Narrated by Imam Muslim from the Prophet that he said: "The right of a Muslim against another Muslim are six: if met then give the greeting, if not visible then look know, if ill, jenguklah, if invited then fill it, if you sneeze and utter hamdalah then the answer (by saying 'yarhamukallah', and if it dies then send it (the funeral). "

First, if met then give greetings Saying hello is the first step, will be more stable if it is followed by shaking hands. Greeting must be accompanied with feelings of love, fun, and the radiant face of greetings to the function is realized. After introducing each other's name, occupation, and residence. Thus you have climbed the first step in preaching.

Secondly, if it does not look the character of an introductory look know is if someone you already know that you do not see in a certain time, then you should look for news about her condition or to contact them, either by phone or mail.

Third, if the pain is jenguklah sunnatullah will happen to everyone, then one day he will feel happy, sad, or sick, and every condition must be addressed with an Islamic attitude. If you hear that your sick friend, you must hurry to see him, give coolness, and pray for his recovery; would be better if you bring an appropriate gift.

Prophet s.a.w said,

"Let you guys give each other gifts, because gifts that will make you love each other." (Narrated by Malik in 'Al-Muwatha "')

From Abu Hurairah ra., Prophet s.a.w said,

"Anyone visiting the sick or visiting relatives fellow Muslims because Allah, the angels will say to him, 'You're in good shape and good also the place going, you will be placed in heaven.'" (Narrated by Muslim)

In place of your friends, you can get acquainted with her friends. Thus you will have more contacts. Do not visit that you use to read the Quran, magazines, or talk which is of no use, so that the purpose of the visit can be realized. If you entered the house, you have to sit where you are seated. Hadith in a atsar,

"Whoever entered the house of one of you will sit in that place, because it is more aware of the nakedness of their homes." (Narrated by Tabaraani)

Fourth, if he invited you then fill After passing through the stages on the relationship between you would be getting close. One moment your friends will experience significant conditions, such as success in the job, marriage, or something else, then he invites you to attend these events. You must meet the invitation because it is a valuable opportunity that is available without you plan ahead.

Vice versa, you must invite him in important events that you invent.

Fifth, if he sneezed and said "hamdalah" then the answer (say "yarhamukallah") Sitting next to strangers in a place, either on trips, parties, or when visiting the sick, then the person sitting next to you sneezed then All you have to turn to him with a radiant face as she said, "yarhamukallah (hopefully God has mercy on you)." Surely this will make him feel something new and then you can talk to him.

Sixth, if he dies then delivered to the funeral What can he do after death and buried? In essence, take someone else who died to the cemetery is to take himself, which he will be able to take the advice, lessons, and reflect. This is a sunna of the Prophet which depict the unity of the Muslims. If earlier you can get to know the person who has died, so now you can use the opportunity to become acquainted with his family and people who ta'ziah to his home.

From Abu Hurairah ra., Prophet s.a.w said,

"Those attending the corpse until menshalatkannya, then his reward one qirath. Whoever watched until the buried, so her two qirath." Someone asked, "Is two qirath it, O Messenger of Allah?" He replied, "Like two huge mountains." (Muttafaqun alaih)

POSISI AL-QURAN (AI-Quran, Sandaran Kenabian)

Al-Quran menegaskan di beberapa tempat bahwa ia adalah fiirman Allah Yang Maha Agung, yang diwahyukan-Nya kepada Nabi dalam bentuk kata-kata yang kita baca dari Al-Quran. Untuk membuktikan bahwa Al-Quran adalah firman Allah, bukan hasil ciptaan manusia, dalam beberapa ayat, AI-Quran menantang semua manusia untuk mendatangkan apa pun yang menyamai Al-Quran walaupun satu ayat. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran itu berkekuatan mukjizat, yang tak seorangpun sanggup mendatangkan yang semisalnya. Allah berfirman:

"Atau mereka mengatakan: 'Muhammad membuat-buatnya.' Sesungguhnya mereka tidak beriman." (QS 52:33)

"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang menyamai Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya walaupun mereha saling membantu'." (QS 17:88)

"Bahkan mereka mengatakan: 'Muhammad telah membuat­buatnya.' Katakanlah: 'Datangkanlah sepuluh surat yang menyamainya'." (QS 11:13)

"Atau mereka mengatakan bahwa Muhammad telah membuat-buatnya? Katakanlah: 'Datangkanlah sebuah surat yang menyamai Al-Quran. “ (QS 10:38)

"Apabila kamu meragukan apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah sebuah surat yang menyamainya." (QS 2:23)

Untuk menantang mereka tentang tiadanya pertentangan dalam Al-Quran, Allah berfirman:

"Tidakkah mereka itu memikirkan Al-Quran? Seandainya Al­Quran itu tidak dari Allah, maka mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya. " (QS 4:82)

Dengan tantangan-tantangannya ini Al-Quran menegaskan bahwa ia merupakan firman Allah, dan menjelaskan dalam banyak ayatnya bahwa Muhammad adalah seorang Rasul dan Nabi yang diutus Allah. Dengan demikian, Al-Quran merupakan sandaran bagi kenabian dan menopang pernyataan Nabi. Dari itu, Nabi diperintahkan untuk bertumpu pada kesaksian Allah tentang hal itu, yakni penegasan AI-Quran terhadap kenabiannya. Al-Quran mengatakan:

"Katakanlah: "Cukuplah Allah yang menjadi saksi antara aku dan kamu. “ (QS 13:43)

Di tempat lain Al-Quran mengungkapkan kesaksian malaikat, selain kesaksian Allah, tentang kenabiannya itu. Allah mengatakan:

"Tetapi Allah menyaksikan apa yang diturunkan-Nya kepadamu. Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat menyaksikan. Cukuplah Allah yang menjadi saksi." (QS 4:166)

Saturday, June 11, 2011

DA'WAH FARDIYAH

Setelah Abu Thalib meninggal, penderitaan Rasulullah saw semakin berat, sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlmdungan dari suku Tsaqif, dengan harapan agar mereka mau menerima ajaran Islam. Ketika sampai di Thaif, beliau menemukan tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas'ud, dan Hubaib. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kedatangan beliau, bahkan memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok Rasulullah saw Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah, yang waktu itu keduanya berada di kebun tersebut dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rasulullah saw

Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun itu tergerak untuk menolong, lalu memerintahkan pembantunya yang biasa disebut Adas, "Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu." Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan Rasulullah seraya berkata, "Silakan dimakan." Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya, setelah itu membaca "bismillahirrahmanirrahim" dan memakannya. Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan heran. "Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini." Rasulullah berkata, "Wahai Adas, kamu berasal dari mana dan apa agamamu?" Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawai." Rasulullah bertanya, "Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?" Adas berkata, "Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi." Mendengar jawaban itu, Adas langsung mendapatkan Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau. Kedua pemilik kebun itu melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka berkata kepada yang satunya, "Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu."

Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, "Celakalah kamu wahai Adas, apa yang menyebabkan kamu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?" Adas berkata, "Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu kepadaku hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi." Mereka berkata, "Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai omongannya menjadikan kamu berpaling dari agamamu, karena agamamu lebih baik dari agamanya."

Saudara dan saudari ku,

Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada didalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu membimbingnya perlahan-lahan, sampai mau mengikrarkan keislamannya. Tatkala Adas datang ke Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata, "Makanlah," Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan membaca "bismillahirrahmanirrahim", lalu memakannya. Seandainya Rasulullah tidak mengucapkan "bismillahirrahmanirrahim", tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.

Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah islamiah di negara-negara non-muslim, karena dengan begitu kaum muslimin dapat mengenal satu sama lain.

Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, "Ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini." Rasulullah lalu berkata, "Wahai Adas kamu berasal dari negeri mana dan apa agamamu?"

Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan menyebut nama secara langsung itu memiliki arti yang sangat besar untuk mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan agamanya. Ini merupakan sebuah jaringan pembicaraan yang berurutan secara rapi.

Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai." Lalu Rasul bertanya, "Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?" Kita melihat bahwa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus as. Dengan menyebut "hamba yang shalih". Inilah yang membuat hati Adas semakin tersentuh dan tertarik. la juga mengetahui bahwa Rasulullah mengetahui letak negeri Ninawai, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Irak. Ini semua membuat Adas semakin tertarik.

Adas bertanya, "Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi." Di sini ada sentuhan yang sangat lembut. Ungkapan Rasulullah, "saudaraku," semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, "la adalah saudaraku." Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah itu terlihat sifat tawadhu 'beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus as. lebih dahulu sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini ada pelajaran yang sangat penting dan berharga bagi seorang da'i.

Banyak di antara kita yang tatkala membicarakan seseorang yang memiliki "kelebihan" mengatakan, "Dia sekolahnya bersamaan dengan saya," atau "Dia dulu satu fakulti dengan saya." Padahal yang lebih baik adalah, "Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah," atau "Saya dulu satu fakulti dengannya."

Saudara dan saudari ku,

Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana dan mudah dicerna. Jadi, untuk da'i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan merasa kesulitan.

Saudara dan saudari ku,

Sekarang marilah kita perhatikan kisah-kisah yang lain. Ada beberapa orang yang ingin menemukan Rasulullah saw Salah seorang di antara mereka menceritakan, "Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah, karena kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya pada Rasulullah. La menjawab, ' Apakah kalian mengenalnya? '

Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Abbas bin Abdul Muthalib yang tak lain adalah pamannya.' Kami menjawab, 'Ya, kami mengenal Abbas, dia sering datang ke kami untuk berdagang.' la berkata, 'Jika kalian masuk masjid, maka Muhammad adalah orang yang duduk bersama Abbas.' Kemudian kami masuk ke dalam masjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama Abbas. Kami memberi salam, lalu duduk di dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Abbas, 'Wahai Abu Fadl apakah engkau mengenal dua orang ini?' Abbas menjawab, 'Ya. Ia adalah Bara 'bin Ma'rur, seorang pemuka kaum dan ini Ka'ab bin Malik.' Rasul bertanya, 'Apakah dia penyair yang terkenal itu?' Abbas menjawab, 'Ya.' "

Sungguh, saya tidak pernah melupakan ucapan beliau yang mulia, "Apakah dia penyair yang terkenal itu?" Demikianlah metode Rasulullah dalam memikat hati mad'unya.

POSISI AL-QURAN (Al-Quran, Menentukan Jalan Hidup Manusia)

Setelah tiga premis di atas jelas, maka harus diketahui pula bahwa Al-Quran - di sampinq memperhatikan tiga premis tersebut, yaitu manusia mempunyai tujuan yang harus dicapainya dalam perjalanan hidupnya dengan usaha dan perbuatannya, dan dia tidak mungkin mencapai tujuan yang diidam-idamkan itu kecuali dengan mengikuti hukum-hukum dan tata cara tertentu serta keharusan mempelajari hukum-hukum dan tata cata itu dari buku fitrah dan penciptaan, yakni ajaran Allah - juga menentukan jalan hidup bagi manusia sebagai berikut:

AI-Quran mendasarkan jalan itu pada keimanan akan keesaan-Nya sebagai dasar pertama agama; Al-Quran menjadikan keimanan kepada akhirat dan Hari Kiamat, yaitu hari ketika orang yang baik dibalas karena kebaikannya dan yang jahat dibalas karena kejahat­annya, sebagai dasar-kedua agama. Hal ini pada gilirannya membawa kepada keimanan kepada kenabian, karena perbuatan-perbuatan bisa dibalas setelah si pelakunya mengetahui ketaatan dan maksiat, yang baik dan yang buruk. Pengetahuan ini tidak akan dapat diperoleh kecuali melalui wahyu dan kenabian - sebagaimana akan kami rinci nanti. Al-Quran menjadikan ke­imanan kepada kenabian ini sebagai dasar ketiga agama.

Al-Quran memandang ketiga dasar ini: keimanan kepada keesaan Allah, kenabian dan akhirat sebagai dasar-dasar agama Islam. Setelah itu, Al-Quran menjelaskan pokok-pokok akhlak yang diridhai dan sifat-sifat baik yang sesuai dengan ketiga dasar tersebut, dan setiap orang beriman harus menghiasi diri dengannya. Kemudian AI-Quran menetapkan hukum-hukum perbuatan yang menjamin kebahagiaan hakiki manusia dan menyuburkan akhlak yang utama dan faktor-faktor yang mengantarkannya kepada akidah yang benar dan prinsip-prinsip pokok.

Tidak logis bila kita beranggapan bahwa orang yang bergelimang dalam seks yang diharamkan, mencuri, berkhianat dan curang, adalah suci. Begitu pula, tidak logis bila kita beranggapan bahwa orang yang keterlaluan dalam mencintai harta, mengumpulkan dan menyimpannya, dan tidak mau memenuhi hak-hak orang lain, adalah suci. Tidak logis pula bila kita menganggap orang yang tidak menyembah Allah dan mengingat-Nya siang dan malam, sebagai beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Dengan demikian, akhlak yang baik maujud karena adanya perbuatan-perbuatan baik, sebagaimana akhlak yang baik itu ada karena akidah yang benar.

Seseorang yang terbelenggu kesombongan, kebanggaan dan kecintaan kepada diri sendiri, tidak mungkin mempercayai Allah dan mengakui keagungan-Nya. Dan orang yang selama hidupnya tidak mengetahui makna keadilan, keperwiraan dan welas asih terhadap yang lemah, tidak akan masuk ke dalam hatinya intan kepada Hari Kiamat, perhitungan dan balasan di akhirat. Tentang hubungan antara akidah yang benar dengan akhlak yang diridhai, Allah berfirntan:

"Kepada-Nya  naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang baik dinaikkan-Nya. " (QS 85:10)

Dan tentang hubungan antara akidah dengan perbuatan, Allah berfirman:

"Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat­ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya." (QS 90:10)

Kesimpulan dari pembicaraan di atas adalah bahwa Al-Quran mengandung sumber-sumber ketiga dasar Islam, yaitu:

Dasar-dasar akidah. Ini terbagi menjadi tiga dasar agama: tauhid, kenabian dan akhirat, dan akidah-akidah yang merupakan cabang darinya, seperti lauh mahfudh, qalam, qadha' dan qadar, malaikat, menghadap Allah, kursi, penciptaan langit dan bumi dan lain-lain.

Akhlak yang diridhai.

Hukum-bukum syara' dan perbuatan yang dasar-dasarnya telah dijelaskan Al-Quran, sedangkan penjelasan terincinya diserahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dan Nabi menjadikan penjelasan Ahlul Bait (keluarga Nabi)sama dengan penjelasan beliau, sebagaimana diketahui dari hadits tsaqalain yang secara mutawatir diriwayatkan baik oleh kalangan Ahlus Sunnah maupun Syi'ah. (1)


Catatan kaki:
(1). Baca 'Abaqatul Anwar, bagian "Hadits Tsaqalain". Di situ disebutkan beratus-ratus sanad yang sampai kepada hadis tersebut.

Friday, June 10, 2011

MENGHAFAL NAMA

Menghafal nama adalah hal yang penting, karena dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Ia merupakan langkah awal dan benang pertama yang mengikat antara hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bola-bola kecil yang berserakan. Setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil dengan namanya, apa lagi dengan nama yang paling ia sukai.

Menghafal nama memiliki peran yang sangat penting. Oleh karena itu, akan saya tampilkan beberapa metode yang dapat membantu permasalahan ini.

1. Harus kita tanamkan rasa ingin dan suka menghafal nama orang lain.

2. Ketika sedang berkenalan, hendaklah kita siap untuk menghafal namanya - secara lengkap atau sebagian saja - lalu mengingat-ingat dan memakainya pada saat itu juga tatkala berbicara.

3. Nama biasanya terdiri dari tiga bagian: namanya sendiri, nama orang tuanya, dan nama keluarganya. Nama yang paling disukai oleh pemiliknya adalah namanya sendiri atau kuniah-nya. (Sebutan nama yang dikaitkan dengan anak laki-laki tertua, seperti Abu Khalid, Ummu Khalid, dan sebagainya). Jika Anda tambahkan pada nama itu nama keluarganya, itu akan lebih baik. Biasanya nama keluarga yang satu dengan yang lain tidak sama jadi sangat mudah untuk dihafal, seperti As-siisi. Adapun nama-nama seperti Muhammad, Ali, Hasan, atau Sa'ad akan sangat banyak ditemukan, sehingga agak sulit menghafalnya.

4. Ketika berkenalan dengan nama yang baru, Anda harus mengingat orang-orang yang memiliki nama yang sama - yang telah Anda kenal sebelumnya - agar mudah untuk menghafal.

5. Pada waktu berkenalan, Anda harus memperhatikan wajah dan keadaannya; apakah ia berjanggut, memakai kaca mata, bagaimana warna kulit, suara, bentuk tubuhnya, pekerjaannya, serta di mana dan bagaimana perkenalan itu berlangsung.

6. Untuk memantapkan memori, Anda dapat menulis nama-nama tersebut, dan setiap kali bertemu harus Anda memanggil mereka dengan nama-nama tersebut. Jika tempat tinggalnya jauh, harus Anda mengirim surat kepadanya, karena ini memiliki dampak yang sangat besar dalam mempererat hubungan Anda dengan mereka. Surat menyurat itu sendiri merupakan sarana dalam tarbiyah.

7. Ketika bertemu lagi, Anda harus mengingat-ingat pertemuan-pertemuan sebelumnya dan pertemuan yang pertama kali, karena ini dapat membantu Anda dalam mengingat namanya dengan cepat.

8. Berkenalan dengan seseorang merupakan pintu bagi Anda untuk berkenalan dengan teman-temannya, sampai Anda memiliki data nama yang amat banyak. Anda pun harus berusaha agar nama-nama itu tetap melekat di kepala.

Rasulullah s.a.w bersabda,

"Termasuk sifat angkuh adalah seseorang yang masuk ke dalam rumah temannya, lalu disuguhkan kepadanya makanan, ia tidak mau memakannya; dan seorang laki-laki yang bersama-sama dengan laki-laki lain dalam perjalanan, tetapi ia tidak menanyakan namanya dan nama orang tuanya. " (HR. Ad-Dailami)

POSISI AL-QURAN (Al-Quran, Undang-Undang Paling Utama Dalam Kehidupan)

Agama Islam, yang mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan, dapat diketahui dasar­dasar dan perundang-undangannya melalui Al-Quran. Al-Quran adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumbernya yang asli dalam ayat-ayat Al-Quran. Allah berfirman,
"Sesungguhnya Al-Quran ini menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus." (QS 17:9)

"Kami menurunkan AI-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS 16:89)

Adalah amat jelas bahwa dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang mengandung pokok-pokok akidah keagamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip-umum hukum perbuatan. Kami tidak perlu menyebutkan semua ayat itu dalam kesempatan yang tidak cukup luas ini. Lebih lanjut kami katakan bahwa pemikiran yang teliti tentang pokok-pokok permasalahan berikut dapat menjelaskan kepada kita universalitas kandungan Al-Quran mengenai jalan hidup yang harus ditempuh manusia.

Pertama, dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada ke­bahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-citanya. Kebahagiaan dan ketenangan merupakan suatu wama khusus di antara warna­-wama kehidupan yang diinginkan oleh manusia, yang di naungannya ia berharap menemukan kemerdekaan, kesejahteraan, kesen­tosaan dan lain-lain.

Jarang kita lihat orang yang, dengan perbuatan mereka sendiri, memalingkan muka dari kebahagiaan dan kesenangan - seperti melakukan bunuh diri, melukai badan dan menyakiti anggota tubuhnya dan beberapa latihan (riyadhah) berat yang tidak diajarkan agama - dengan alasan berpaling dari dunia, dan perbuatan­-perbuatan lain yang menyebabkan seseorang kehilangan berbagai sarana kesejahteraan dan ketenangan hidup. Seperti itulah, (hanya) orang yang menderita komplikasi jiwa - sebagai akibat dari parahnya komplikasi itu - berpendapat bahwa kebahagiaan terdapat dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebahagiaan. Sebagai contoh, seseorang mengalami kesulitan hidup dan tidak kuat menanggungnya, kemudian bunuh diri karena beranggapan bahwa kesenangan itu terdapat dalam kematian. Atau, sebagian orang menjauhi dunia, menjalani bermacam latihan badan dan mengharamkan kesenangan materiil untuk dirinya sendiri, karena ia berpendapat bahwa hidup dalam kesenangan materi merupakan hidup yang kering. Dengan demikian, usaha yang dilakukan manusia hanyalah untuk menemukan kebahagiaan yang diidam-idamkan yang ia berusaha mewujudkan dan memperolehnya.

Memang, jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut berbeda-beda. Sebagian menempuh jalan yang masuk akal, yang diterima kemanusiaan dan dibolehkan oleh syariat, sedang sebagian yang lain menyalahi jalan yang benar sehingga terperosok ke dalam belantara kesesatan dan menyimpang dari jalan kebenar­an.

Kedua, perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senan­tiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu. Hal ini merupakan suatu kebenaran yang tak dapat diingkari, dalam segala keadaan, mengingat sangat jelas dan terangnya persoalan. Hal itu disebabkan karena manusia yang mempunyai akal hanya melakukan sesuatu setelah ia menghendakinya. Perbuatannya itu berdasarkan kehendak jiwa yang diketahuinya dengan jelas. Di segi yang lain, ia hanya melakukan apa pun demi dirinya sendiri. Yakni, ia merasakan adanya tuntutan-tuntutan hidup yang harus dipenuhinya, kemudian berbuat untuk meme­nuhi tuntutan-tuntutan itu untuk dirinya sendiri. Karenanya, antara semua perbuatannya itu ada suatu tali kuat yang menghubungkan sebagiannya dengan yang lain.

Sesungguhnya makan dan minum, tidur dan bangun, duduk dan berdiri, pergi dan datang - semua perbuatan ini dan perbuat­an-perbuatan lain yang dilakukan manusia - pada beberapa keadaan, merupakan keharusan baginya; dan pada beberapa keadaan yang lain, tidak merupakan keharusan - yakni, bermanfaat bagi­nya pada suatu saat, dan membahayakan pada saat yang lain. Semua yang dilakukan manusia itu bersumber dari suatu hukum yang ia ketahui universalitasnya dalam dirinya dan yang ia terapkan bagian-bagiannya pada perbuatan dan pekerjaan-pekerjaannya.

Seseorang, dalam perbuatan-perbuatan individualnya, menyerupai suatu pemerintahan lengkap, yang memiliki hukum, kebiasa­an dan tata caranya sendiri. Kekuatan aktif dalam pemerintahan itu terlebih dahulu harus menimbang perbuatan-perbuatannya dengan hukum-hukum itu, kemudian barulah ia berbuat. Perbuatan-perbuatan sosial yang dilakukan dalam suatu ma­syarakat menyerupai perbuatan individual, sehingga padanya ber­laku seperangkat hukum dan tata cara yang dipatuhi oleh sebagian besar individu masyarakat itu. Jika tidak, maka anarkisme akan menguasai, dan ikatan sosial mereka pun terpecah.

Memang, corak masyarakat, di bawah pengaruh hukum-hukum yang berlaku dan dominan di dalamnya, berbeda-beda. Seandainya masyarakat itu bercorak mazhabiah, maka di dalamnya ber­laku ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum mazhab tersebut. Dan bila tidak bercorak mazhabiah, melainkan kebudayaan, maka perbuatan-perbuatan masyarakat itu bercorak hukum kebudayaan tersebut. Adapun jika masyarakat itu liar dan tidak mempunyai kebudayaan, maka padanya berlaku tata pergaulan dan hukum­-hukum individual yang sewenang-wenang, atau hukum-hukum yang dihasilkan oleh adanya percampuran berbagai kepercayaan dan tata pergaulan yang kacau.

Kalau demikian, maka manusia, dalam perbuatan-perbuatan individual dan sosialnya, harus memiliki tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkan itu, ia harus melakukan perbuatan-perbuatannya menurut hukum dan tata cara tertentu yang ditetapkan oleh agama atau masyarakat, atau yang lainnya. Al-Quran sendiri menguatkan teori ini ketika ia mengatakan,

"Tiap-tiap umat memiliki kiblat-nya sendiri yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lomba lah dalam kebaikan." (QS 2: 148)

Kata ad-diin (agama), menurut kebiasaan Al-Quran berarti 'jalan hidup.' Orang-orang yang beriman dan yang kafir sehingga yang tidak mengakui keberadaan Allah sekalipun – pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukum-­hukum tertentu dalam perbuatan-perbuatannya, dan hukum-hukum itu disandarkan kepada Nabi dan wahyu, atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat. Tentang musuh-musuh agama Allah, Allah berfirman:

"Yaitu orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok. " (QS 7:45) [1]

Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi-emosi dan dorongan-dorongan individual atau sosial.

Apabila kita mengamati secara teliti setiap bagian alam, akan kita ketahui bahwa ia memiliki tujuan tertentu, yang sejak hari pertama kejadiannya ia mengarah ke tujuan itu melalui jalan yang terdekat dan terbaik. Ia memiliki sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Inilah keadaan semua makhluk di dalam alam ini, baik yang bernyawa maupun yang tidak.

Sebagai contoh adalah biji gandum. Sejak hari pertama diletakkan dalam tanah, ia berjalan dalam proses penyempurnaan. Meng­hijau dan tumbuh sampai terbentuknya bulir-bulir yang lipatannya berisi banyak biji gandum. Dan ia dibekali dengan sarana-sarana khusus untuk memperoleh unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam proses penyempurnaannya itu. Kemudian ia menyerap unsur-unsur yang ada di dalam tanah, udara dan lain-lainnya dengan kadar ter­tentu: Lalu ia merekah, menghijau dan tumbuh hari demi hari, dan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain sampai terbentuknya bulir-bulir baru, yang dalam setiap bulir terdapat banyak biji gandum. Pada saat itulah biji pertama yang disemaikan di bumi benar-benar telah mencapai tujuan yang dicita-citakan dan kesempurnaan yang ia tuju. Demikian pula pohon kenari. Jika kita amati secara teliti, akan kita ketahui bahwa pohon itu juga ber­jalan menuju suatu tujuan tertentu sejak hari pertama kejadiannya. Dan untuk mencapai tujuan itu ia dibekali alat-alat tertentu yang sesuai dengan proses penyempurnaan, kekuatan dan besarnya. Dalam perjalanannya ia tidak menempuh perjalanan yang ditem­puh oleh gandum, sebagaimana gandum dalam tingkat-tingkat penyempurnaannya tidak berproses sebagaimana prosesnya pohon kenari. Masing-masing dari kedua tanaman itu mempunyai perkembangannya sendiri yang tidak akan dilanggarnya untuk selama-lamanya.

Semua yang kita saksikan di dalam alam ini mengikuti kaidah yang berlaku ini, dan tidak ada bukti pasti bahwa manusia menyimpang dari kaidah itu dalam perjalanan alamiahnya menuju tujuan yang ia telah dibekali alat-alat tertentu untuk mencapainya. Bahkan bekal-bekal yang diberikan kepadanya itu merupakan bukti terkuat bahwa dia adalah seperti yang lainnya di alam ini. Dia memiliki tujuan tertentu yang menjamin kebahagiaannya, dan dia telah dilengkapi dengan sarana-sarana untuk mencapainya.

Jadi, fitrah manusia - bahkan fitrah alam yang manusia hanyalah merupakan sebagian darinya - menuntunnya ke arah kebahagiaan hakiki. Fitrah itu mengilhami hukum-hukum terpenting, terbaik dan terkuat yang menjamin kebahagiaannya. Allah ber­firman:

"Musa berkata: 'Tuhan kami ialah Zat yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi­nya petunjuk'." (QS 20:50)

"Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan)­Nya. Yang memberikan ketentuan dan petunjuk." (QS 87:2-3)

"Demi jiwa dan penyempurnaannya. Kemudian Allah mem­beritahukan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS 91:7-10)

"Hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetapi fitrah Allah yang la telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. ltulah agama yang lurus. " (QS 30:30)

"Sesungguhnya agama yang diterima Allah adalah lslam. (QS 3:19)

"Barangsiapa mencari agama selain lslam, maka tidak akan di­terima. " (QS 3:85)

Kesimpulan dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang memiliki kandungan sama, yang tidak kami sebutkan secara ringkas, adalah bahwa Allah menuntun setiap makhluk-Nya - termasuk manu­sia - kepada tujuan dan kebahagiaan puncak yang merupakan tujuan diciptakannya mereka. Dan jalan yang benar bagi manusia ialah jalan fitrahnya. Maka dalam perbuatan-perbuatannya manu­sia harus terikat dengan hukum-hukum individu dan sosial yang bersumber dari fitrahnya, dan tidak boleh secara membuta meng­ikuti hawa nafsu, emosi, kecenderungan dan keinginannya. Konsekuensi dari agama fitrah (alamiah) adalah manusia tidak boleh menyia-nyiakan bekal yang diberikan kepadanya. Bahkan setiap bekal harus dimanfaatkan dalam batas-batasnya dan secara benar, agar potensi-potensi yang ada dalam dirinya seimbang, dan agar satu potensi tidak mematikan potensi yang lain.

Selanjutnya manusia harus dikuasai oleh akal sehat yang jauh dari kesalahan, bukan oleh tuntutan-tuntutan diri yang bersumber dari emosi yang menyalahi akal. Begitu pula, yang menguasai masyarakat haruslah kebenaran dan yang benar-benar bermanfaat baginya, bukan orang kuat yang sewenang-wenang dan mengikuti hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. Bukan pula mayoritas yang menyimpang dari kebenaran dan kemaslahatan umum.

Pembahasan di atas juga menunjukkan bahwa yang berhak membuat dan memberlakukan hukum hanyalah Allah saja, dan tak seorang pun berhak membuat dan memberlakukan hukum dan memutuskan segala perkara, karena pembahasan di atas menun­jukkan bahwa jalan hidup dan hukum yang bermanfaat bagi manu­sia dalam kehidupannya adalah yang diilhami fitrahnya. Yakni hukum dan jalan hidup yang dituntut oleh sebab-sebab dan faktor-­faktor batiniah dan lahiriah dalam fitrahnya. Hal ini berarti sesuai dengan kehendak Allah. Pengertian "sesuai dengan kehendak Allah" adalah bahwa Allah telah menempatkan pada diri manusia sebab-sebab dan faktor-faktor yang mengakibatkan adanya undang-undang dan jalan hidup.

Kadang-kadang, sebab-sebab dan faktor-faktor itu mengambil bentuk pemaksaan sebagai dasar bagi suatu proses, seperti peris­tiwa-peristiwa alam yang terjadi setiap hari. Inilah yang dinamakan kemauan alam (iradah takwiniah), Kadang-kadang juga sesuatu aksi dilakukan secara bebas dan berdasarkan kehendak, seperti makan, minum dan lain-lain, yang dalam hal ini kehendak diatur oleh hukum Allah (iradah tasyri'iah). Allah berfirman:

"Tidak ada hukum selain milik Allah." (QS 12:40 dan 67)


Catatan kaki:
[1]. Kata sabilillah (jalan Allah), dalam kebiasaan Al-Quran, berarti agama Allah. Ayat itu juga menunjukkan bahwa orang~orang kafir, termasuk di dalamnya orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan pun memiliki agama, yaitu jalan hidup mereka.

ADAB BERJALAN KE MASJID DAN BACAAN SEWAKTU MASUK DAN KELUARNYA

Hadits Pertama

"Artinya : Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah selesai shalat, ia bertanya : "Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?". Mereka menjawab : "Kami terburu-buru untuk turut (jamaah)", Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !" [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad]

Hadits Kedua

"Artinya : Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda : "Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah". [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa'i dan Ahmad]

Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

[1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

[2]. Kita dilarang tergesa-gesa apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan.

[3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jamaah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jamaah.

[4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jamaah (makmum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.

[5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu.

[6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda.

"Artinya : Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat". [Hadits Shahih Riwayat : Muslim].

Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Salam (Syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (Terjemahan) 2 : 781. Koleksi Hadits Hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

Hadits Ketiga

".Artinya : ....Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : "ALLAAHUMMAJ 'AL FI QALBII NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : "(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya". [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud]

Keterangan :
[1]. Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas yang menerangkan tentang shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diwaktu malam (shalat lail).

[2]. Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do'a di atas di waktu pergi ke Masjid.

Periksa : Tuhfatudz Dzakirin halaman : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar halaman : 25, Imam Nawawi. Fat-hul Bari' 11 : 116, Ibnu Hajar. Aunul Ma'bud (Syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah Shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

Hadits Keempat

"Artinya : Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : "ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)". Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : "ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) ".[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa'i].

Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do'a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari masjid.

Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa'i 2: 41. Fat-hur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

Hadits Kelima

"Artinya :Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : "AUDZU BILLAAHIL 'AZHIIMI WABI WAJHIHIL KARIIMI WA SULTHAANIL QADIIMI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM" (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) setan yang terkutuk)". Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do'a di atas), setan pun berkata : Dipelihara ia dari padaku sisa harinya" [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud]

Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita membaca do'a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan apabila memasuki masjid.

Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma'bud Nomor hadits : 462. Minhalul 'Adzbul Mauruud (Syarah Abu Dawud) 4 : 75, Tuhfatudz Dzakrin halman 94, Al-Kalimut Thayyib halaman 51,52, Ibnu Taimiyah. Al-Adzkar halman 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 :294.

Loading



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More