Loading

Thursday, June 9, 2011

TIGA KARAKTERISTIK MANUSIA

Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu:

1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah

Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti ini harus dinomor satukan, karena mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.

2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak asasiyah

Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak ingin terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.

3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah

Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibir karena perbuatan dan sifatnya yang jelek. Bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya karena takut dengan keburukannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw sebagai: "Sejelek-jelek teman bergaul". (HR. Muslim)

Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas dakwah fardiyah. Ada seseorang berdin di bawah pohon apel yang sedang berbuah lebat. Jika ia ingin memetik, ia terlebih dulu memetik buah yang dapat dijangkau dengan tangannya. Jika sudah habis, dan tinggal yang paling atas, maka jika dapat dijangkau buah itu akan dipetik dan kalau tidak, buah tersebut tidak akan dapat dipetik. Bukan berarti seorang da'i harus tetap berpegang dan terikat dengan urutan ini, karena kadangkala keadaan bisa mengubah pandangannya dalam hal ini-dengan izin Allah-seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab ra., Khalid bin Wahd ra., Amr bin Ash ra. , dan lainnya.

Ada seseorang yang pergi ke pantai untuk memancing ikan dengan membawa peralatan pancing. Menurut pengalamannya, dengan peralatan yang ia bawa itu hanya akan mendapatkan ikan-ikan kecil. Tetapi pada saat itu ia terkejut karena mendapatkan ikan yang besar. **

Tatkala seorang da'i melihat beberapa pemuda - yang wajah mereka menyiratkan ketaatan-maka ia berkeinginan untuk berkenalan dan mengajak mereka ke jalan dakwah. Yang perlu diperhatikan adalah dalam mendekati mereka dibutuhkan langkah yang cermat, karena biasanya pemuda-pemuda ini memiliki seseorang yang, mereka segan dan hormati. Jika seorang da'i dapat mendekati orang tersebut, sangat dimungkinkan pemuda-pemuda itu mengikuti dakwah kita. Namun jika pendekatan ini tidak berhasil, sebagai da'i, ia tidak dapat putus asa. Ia harus mendekati salah satu pemuda-di antara pemuda-pemuda tadi-yang pemahamannya terhadap dakwah islamiah lebih mantap, bergaul dengannya - dan juga yang lain-dengan sabar dan penuh kasih sayang tanpa menyinggung permasalahan yang dapat menyebabkan hubungan itu terganggu. Jika-dengan izin Allah-pemuda itu mau menerima ajakan kita, ini akan sangat membantu usaha kita untuk mengajak teman-temannya yang lain.

Pendekatan itu harus dilakukan dengan lemah lembut. Kita harus menyadari bahwa kita tidak diwajibkan untuk memastikan mereka semua menerima ajakan kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah. Hanya Dialah yang berhak memberikan hidayah. Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)

Ayat ini menjelaskan bahwa walaupun kita memberikan segenap hati kita untuk mengajak mad'u kita, tetapi hanya Allah-lah yang berhak membolak-balikkan hati orang tersebut. Seorang tukang roti berdiri di depan open (tempat pembakaran roti), sambil memasukkan potongan-potongan roti ke dalamnya. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengeluarkan roti yang sudah matang dan membolak-balikkan yang belum matang. Setiap kali ada roti yang sudah matang, ia akan mengeluarkannya. Bisa dipastikan bahwa ada beberapa potong roti yang jatuh ke dalam api dan terbakar. Inilah kondisi da'i tatkala berdakwah di masyarakat; ia memberi sekaligus menerima (give and take). Suatu saat ia mendekat dan pada saat yang lain ia menjauh.

Ia akan memberi kepada setiap orang sebagaimana seorang dokter yang memberikan obat dengan berlaku sabar. Setelah selang beberapa waktu, di antara mereka sudah ada yang disinari oleh cahaya iman (inilah roti yang telah matang), ada yang menyambut ajakan tersebut karena perasaan takut, ada yang menyambut ajakan tersebut karena malu, ada yang bersikap angin-anginan, ada pula yang menjauh, dan bahkan ada yang terjadi tidak baik terhadap sang da'i. Untuk menghadapi mereka itu, kita tidak bisa putus asa, tetapi harus terus berusaha sehingga yang ditunggu-tunggu dapat dipetik, disertai doa agar Allah membukakan hati mereka.

Adapun da'i yang menghabiskan waktunya hanya untuk satu orang dengan harapan agar orang tersebut mau menerima ajakannya adalah tidak benar. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya diajak dengan cara yang sangat berlebihan, sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah. Metode yang harus kita perhatikan adalah: "Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jika ada yang mudah".

Wednesday, June 8, 2011

RINTANGAN DA'WAH

Permasalahan yang menghalangi seorang da'i di tengah medan dakwah adalah permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, padahal orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil. Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali kepada diri sang da'i itu sendiri, yakni berhubungan dengan potensi dirinya secara ruhiah, di samping kecekapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam mewujudkannya.

Jika kita telah paham bahwa setan juga membuat program untuk para pengikutnya dengan langkah-langkah yang bertahap (sebagaimana firman Allah,

"Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." (Al-Baqarah: 168), maka sudah selayaknya seorang da'i juga membuat program dan langkah-langkah dalam mengambil simpati mad'u. Sungguh sangat jauh berbeda antara tujuan setan dengan tujuan orang-orang yang beriman. Allah. berfirman,

"Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh kalian). Jika kalian menderita kesakitan (kekalahan), maka mereka sesungguhnya juga menderita kesakitan (pula), sebagaimana kalian menderitanya. Sedangkan kalian mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. " (An-Nisa ': 104)

Oleh karenanya, seorang da'i harus memperhatikan celah-celah kebaikan yang ada pada orang lain kemudian memupuknya, sehingga celah-celah keburukan yang ada padanya tersingkir dan ia ingin bangkit berdiri melangkah di jalan Islam. Tugas seorang da'i seperti tugas seorang pengajar dan dokter yang akan memberikan obat sesuai dengan penyakit yang diderita oleh pasiennya. Tidak masuk akal kalau semua pasien diberi obat yang sama, karena penyakit mereka tentu berbeda satu sama lain.

Pengajar dan doktor adalah da'i yang paling berhasil, jika mereka bersedia melakukan pekerjaan itu dengan didasari keimanan kepada Allah dan untuk menegakkan Nya. Didasari oleh alasan inilah, para misionaris dalam memerangi dunia Islam memusatkan perhatian mereka pada universitas dan rumah sakit-rumah sakit, serta menyalurkan berbagai bentuk bantuan.

Tugas pengajar adalah menghayati hati dan pola pikir siswa, lalu membimbing mereka sedikit demi sedikit, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana, sedangkan tugas dokter adalah menghapus penderitaan pasien dengan kata-kata yang dipenuhi keimanan dan memberikan obat yang sesuai. Mungkinkah seorang da'i mengajak orang lain untuk kembali ke ajaran-ajaran Islam tanpa memberikan kasih sayang kepadanya?

Perilaku dan keteladanan seorang da'i yang ikhlas akan memiliki pengaruh yang lebih besar dari tulisan dan ceramah. Ibarat remote control yang dapat digunakan untuk mentransfer acara TV dari jarak yang jauh tanpa harus memakai kabel, begitu juga dengan seorang da'i yang ikhlas dan penuh kasih sayang. la tidak akan kesulitan memasukkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain. Jika tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa iri dan dengki itu dapat memberikan mudharat, maka tatapan mata yang dipenuhi rasa iman dan kasih sayang akan menimbulkan cinta dan keimanan.

Dari sini kita dapat mengetahui betapa berharganya pancaindera yang diberikan oleh Allah. ke manusia. Pancaindera adalah bagian penting dari tubuh manusia, sedangkan jasad secara keseluruhan adalah sebagai tempat tinggal bagi indra tersebut. Allah. berfirman,

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran, penglihatan dan menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?' Perhatikanlah bagaimana berkali-kali Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). " (Al-An'am: 46)

"Katakanlah, 'Dialah Yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati.'" (Al-Mulk: 23)

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) lidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. " (Al-A'raf: 179)

Orang yang tidak mengetahui dan mensyukuri nikmat Allah. berupa pancaindera adalah orang yang tidak mengetahui sumber kehidupan yang sangat besar. Allah. berfirman, "Ataukah seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; gelap gulita yang tindih-menindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tidaklah dia memiliki cahaya sedikit pun. " (An-Nur: 40)

Dengan kehilangan pancaindera, manusia akan menjadi suatu makhluk yang tidak hidup dan tidak mati. Ia menjadi makhluk yang tidak berguna. Kalau sudah begitu, maka ia tidak akan dapat memberikan pengaruh kepada orang lain, karena alat penerima dan pengirim sudah lidak lagi berfungsi, seperti orang yang tidur di atas ranjang emas tetapi ia tidak menyadarinya, karena pancaindera-nya sedang tidak berfungsi. Manusia yang demikian itu membutuhkan orang yang membangunkan dari tidur-nya yang lelap. Allah. berfirman,

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan itu ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang kondisinya dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)

Marilah kita perhatikan gambaran-gambaran berikut, "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Bagi mereka siksa yang amat berat." (Al-Baqarah: 7)

"Dan Kami adakan tutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Bila kalian menyebut Rabb kalian saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya." (Al-Isra ': 46)

Orang yang tidak menggunakan pancainderanya adalah orang yang hidup dalam "dunia yang tidak nyata", sehingga alam sekitarnya tidak akan melihat dan merasakan keberadaannya, serta tidak akan sedih jika ditinggal pergi. Mereka tidak memahami makna hidup yang sebenarnya, tujuan penciptaan, dan tanggung jawab yang dibebankan. Adapun da'i, ia ibarat qalbu (hati), maka barangsiapa yang tidak memfungsikan hatinya, ia tidak mendapatkan sambutan dari masyarakatnya.

Allah. berfirman, "Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku Iemah lembut terhadap mereka. Jika kamu berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159)

Hati yang beriman adalah sumber penggerak, sebagaimana firman-Nya, "Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (At-Taghabun: 11)

Perasaan dan kasih sayang adalah "bahasa" internasional yang dipergunakan oleh da'i dalam menghadapi seluruh penduduk bumi, hingga orang bisu sekalipun. Karena rahmat Allah-lah Anda berlaku lemah lembut terhadap mereka. Jika kamu berlaku keras lagi kasar, tentulah mereka akan menjauhimu, wahai para da'i. "Bahasa" ini ibarat mata uang yang ditetapkan untuk dipakai oleh setiap negara secara internasional. Dengan "bahasa" inilah, generasi pertama umat ini dapat menaklukkan dunia. Mereka adalah lentera kehidupan. "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orangorang yang memiliki akal atau mempergunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37)

Oleh karena ltu, barangsiapa tidak mengingat, merasakan, dan terpengaruh oleh keburukan atau keindahan, ia adalah orang yang tidak memiliki hati.

Tuesday, June 7, 2011

TUGAS KITA

Dalam memberikan perintah (taujih) tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya, "Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga listrik. Pejabat menginstal instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran listrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu listrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik yang ada itu tidak dimanfaatkan. "

Demikianlah, Allah. telah menurunkan Al Qur'an Al-Karim ke kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah. berfirman, Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. "( Al-Maidah: 15-16)

Begitu pula dengan Al-Qur'an Al-Karim, ia adalah pusat pembangkit "tenaga" untuk kaum muslimin, tetapi sumber kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun menjadi rusak.

Tugas kita sebagai da'i adalah seperti tugas para pegawai listrik, mengalirkan kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya. Allah. berfirman, "Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan kondisi orang yang berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? " (Al-An'am: 122)

Tatkala Anda ingin memikat hati mad'u, Anda harus ingat bahwa Anda adalah seorang da'i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala Anda berdakwah, Anda harus ingat bahwa Anda sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka Anda harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana cara memberikannya.

Monday, June 6, 2011

UNTUKMU SAUDARA DAN SAUDARIKU

Individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Maka perbaikilah dirimu terlebih dahulu, kemudian serulah orang lain ke jalan kebaikan. Karena terwujudnya pribadi-pribadi yang benar-benar mukmin akan membuka banyak peluang untuk sukses. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, yaitu pembentukan pribadi islami {Takwin asy-syakhshiyab al-islamiyyah).

Walau jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mau bergabung dalam dakwah islamiah, maka perlahan tapi pasti kita telah mengentaskan mereka dari kehinaan jahiliah menuju kemuliaan di bawah naungan cahaya Islam. Bukankah ini adalah tujuan dakwah? Bukankah mencari pengikut dengan cara seperti ini adalah tindakan yang bijaksana dan akan membuahkan hasil yang jelas?

Tugas kita adalah meluruskan pendapat umum yang salah terhadap Islam. Jika individu bisa menjadi baik, maka masyarakat pun akan menjadi baik, dan dengan sendirinya Islam akan berdiri tegak. Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan proyek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun.

Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, karena perputaran waktu adalah bagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz'un minal 'ilaj wat Takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati. Ini semua akan tergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta, tenaga, maupun waktu.

Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase takwiniyah) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam. Ini harus dilakukan dengan kemantapan Kiat Memikat Objek Dakwah iman, pemahaman yang universal, dan bertoleransi dalam masalah-masalah khilaf dan cabang.

Metode dakwah haruslah secara tadarruj (bertahap), sebagaimana firman Allah swt., "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Asy-Syu'ara: 214)

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (Al-Hijr: 94)

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu." (Al-Hajj: 39)

Dari anasir jahiliah, Rasul mencetak pasukan hidayah. Dari anasir hidayah, Rasul menaklukkan negeri-negeri thaghut. Di jalan itulah, Rasul meletakkan sistem dakwahnya.

Friday, June 3, 2011

SUBHAT DAN JAWABANNYA

1. Apakah Penamaan As-Salafiyah Adalah Kebid'ahan ?

Ada sebagian orang berkata : Sesungguhnya penamaan dengan As-Salafiyah adalah kebid'ahan, karena para sahabat di zaman  Rasulullah tidak memakainya.

Jawabannya:
Kata Salafiyah tidak dipakai di zaman Rasulullah dan sahabatnya karena tidak butuh untuk itu. Kaum muslimin awal berada di  atas Islam yang benar, maka tidak butuh kepada kata Salafiyah, karena tabiat dan fitrah mereka berada di atasnya sebagaimana  mereka berbahasa Arab fasih tanpa keliru dan salah, maka tidak ada ilmu nahwu dan sharaf serta balaghah sampai munculnya  kekeliruan lalu muncullah ilmu ini yang dapat meluruskan lisan yang bengkok, demikian pula ketika muncul keanehan dan  penyimpangan dari jama'ah kaum muslimin mulailah muncul kata As-Salafiyah pada alam kenyataan walaupun Nabi Shallallahu  'alaihi wa sallam telah menjelaskan maknanya dalam hadits Iftiroq dengan sabdanya :

"Apa yang aku miliki dan sahabat-sahabatku sekarang"

Ketika kelompok-kelompok sesat banyak bermunculan dan seluruhnya mendakwakan (mengklaim) diri mereka berjalan di atas  Al-Kitab dan As-Sunnah, maka para Ulama umat bangkit melakukan pembedaan yang lebih gamblang dan mengatakan : Ahlul Hadits  dan As-Salaf.

Karena itu Salafiyah terbedakan dari seluruh golongan-golongan Islam yan lain dengan penisbatannya kepada perkara yang  menjamin mereka dapat berjalan di atas Islam yang benar, ketahuilah, itu adalah berpegang teguh kepada apa yang telah  dijalani Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari kalangan  Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, merekalah para generasi yang mendapat persaksian  kebaikan.


2. Dikatakan : Kenapa Kita Menisbatkan Diri Kepada Salaf

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu" [ Al-Hajj : 78]

Kami akan memaparkan sebuah dialog yang baik antara Seorang Asy-Syaikh dan ustadz Abdul Halim Abu Syuqah pengarang kitab  "Tahrirul Mar'ah Fi Ashri Ar-Risalah".

Berkata Asy-Syaikh : Kalau engkau ditanya apa madzhab kamu, apa yang akan kamu katakan ?

Dia menjawab : Muslim

Berkata Asy-Syaikh : Ini tidak cukup !

Dia berkata : Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menamakan kita kaum muslimin sejak dahulu, lalu dia membacakan firman  Allah Subhanahu wa Ta'ala : Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu" [Al-Hajj : 78]

Berkata Asy-Syaikh : Ini adalah jawaban yang benar seandainya kita berada di zaman awal sebelum berkembangnya  kelompok-kelompok sesat, dan seandainya kita tanyakan -sekarang- setiap muslim dari kelompok-kelompok yang kita berselisih  dengannya secara mendasar dalam aqidah, maka tidak akan berbeda jawabannya dari jawaban ini, semuanya mengatakan baik orang  Syi'ah Rafidah, Khawarij, Druze, Nushairiy Al-Alawiy : Saya Muslim, kalau begitu jawaban itu belum cukup untuk saat-saat ini.

Dia berkata : Kalau begitu saya katakan : Saya muslim yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah.
Berkata Asy-Syaikh : Ini juga tidak cukup.

Dia berkata : Kenapa ?

Berkata Asy-Syaikh : Apakah kamu dapatkan seorang dari mereka yang telah kita jadikan contoh mengatakan : Saya muslim dan  saya tidak berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah ... maka siapakah yang mengatakan : Saya tidak berada di atas Al-Kitab dan  As-Sunnah.

Kemudian Syaikh mulai menjelaskan arti penting tambahan yang kami telah tetapkan yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan  pemahaman As-Salaf Ash-Shalih.

Dia berkata : Kalau begitu saya seorang muslim yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman As-Salaf  Ash-Shalih.

Berkata Asy-Syaikh : Jika seorang bertanya kepada kamu tentang madzhab kamu, apakah kamu akan menjawab demikian ?

Dia berkata : Ya.

Berkata Asy-Syaikh : Bagaimana pendapat kamu jika kita meringkasnya secara bahasa, karena sebaik-baiknya perkataan adalah  yang paling ringkas tetapi mewakili maksudnya, maka kita katakan : Salafiy.

Dia berkata : Saya mungkin berbasa-basi kepadamu dan saya katakan : Ya, akan tetapi keyakinan saya tetap seperti tadi, karena  pertama yang terbesit pada pikiran seseorang ketika mendengar kamu adalah Salafiy adalah hal-hal yang banyak dari kebiasaan  berupa sikap-sikap keras yang mengantar kepada kebengisan yang terkadang ada pada Salafiyin (orang-orang Salafiy).

Berkata Asy-Syaikh : Anggaplah ucapanmu itu benar. Jika kamu katakan : Saya muslim, tidak akan terpahami kamu seorang Syi'ah  Rafidah atau Druziyah atau Ismailiyah..?

Dia berkata : Mungkin saja akan tetapi saya telah mengikuti ayat yang mulia : "Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian  orang-orang muslim dari dahulu" [Al-Hajj : 78]

Berkata Asy-Syaikh : Tidak wahai saudaraku ! sesungguhnya kamu tidak mengikuti ayat tersebut, karena ayat tersebut bermakna  Islam yang benar, sepatutnyalah diajak bicara orang-orang sesuai dengan akalnya ... apakah ada seorang yang memahami dari  kamu bahwa kamu muslim dengan makna yang ada di ayat tersebut ?

Adapun hal-hal yang jelek yang telah kamu sebutkan tadi adakalanya benar atau tidak benar, karena perkataan kamu : keras,  adakalanya pada sebagian pribadi-pribadi saja dan bukan seperti manhaj ilmiyah yang diyakini, maka tinggalkanlah  pribadi-pribadi tersebut. karena kita berbicara tentang manhaj dan karena kalau kita katakan : Syi'iy, Driziy, Khorijiy,  Shufi atau Mu'taziliy akan masuk juga kepada hal-hal buruk yang telah kamu sebutkan. Kalau begitu hal itu diluar pembahasan  kita, karena kita membahas tentang nama yang menunjukkan madzhab yang dipegangi oleh seorang manusia.

Kemudian Syaikh berkata : Bukankah sahabat semuanya muslim ?

Dia menjawab : Tentu.

Berkata Asy-Syaikh : Akan tetapi ada dari mereka yang mencuri dan berzina, dan ini tidak diperbolehkan seorangpun mengatakan  : Saya bukan seorang muslim, akan tetapi dia masih seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya  seperti satu manhaj, akan tetapi dia terkadang menyelisihi manhajnya, karena dia tidak maksum. Oleh karena itu, kita -semoga  Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkati kamu- berbicara tentang kata yang menunjukkan aqidah, pemikiran dan pedoman kita dalam  kehidupan dalam hal yang berhubungan dengan perkara agama yang kita beribadah denganya. Adapun fulan keras atau sebaliknya  (lemah) adalah perkara lain.

Kemudian berkata Asy-Syaikh : Saya ingin kamu renungkan kata yang singkat ini sampai kamu tidak tetap terus berada pada kata  muslim sedangkan kamu tahu tidak ada seorangpun yang memahami darimu apa yang kamu inginkan darinya, maka kalau begitu  berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka.

Barakallahu laka fi Talbiyika.

Thursday, June 2, 2011

Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Pembicaraan tentang hal ini ditinjau dari beberapa sisi :

Ahlus Sunnah wal Jama'ah Adalah Al-Firqatun Najiyah Dan Ath-Thaifah Al-Manshurah Serta Ahlil Hadits.

Berkata Syaikhhul Islam dalam Majmu' Fatawa 3/129 : Amma ba'du, inilah aqidah Al-Firqatun Najiyah Al-Manshurah sampai tegaknya hari kiamat Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan berkata dalam tempat yang lain 3/159 : Dan jalan mereka adalah agama Islam yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus dengannya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa : Umatnya akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu Al-Jama'ah dan dalam hadits yang lain beliau bersabda : mereka adalah yang berada seperti yang aku dan para sahabatku ada sekarang, maka jadilah orang-orang yang berpegang teguh kepada Islam yang murni dan bersih dari campuran adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada pada mereka orang-orang Shiddiq, syuhada dan orang-orang shalih dan dari mereka-mereka ini terdapat para tokoh-tokoh Ulama dan pelita umat yang memiliki kebesaran dan keutamaan yang terkenal serta ada pada mereka Al-Abdaal yaitu para imam yang telah disepakati kaum muslimin dalam petunjuk dan ilmu mereka. Merekalah Ath-Thaifah Al-Manshurah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Senantiasa ada dari umatku sekelomok orang yang menegakkan kebenaran tidak merugikannya orang yang menghina sampai datangnya hari kiamat"

Kita memohon kepada Allah yang Maha Agung untuk menjadikan kita termasuk dari mereka dan untuk tidak menyesatkan hati-hati kita setelah mendapat petunjuk serta menganugrahkan kita rahmat dariNya karena Dia adalah Al-Wahaab (yang Maha Pemberi). Wallahu a'lam.

Dan berkata juga dalam 3/345 : Oleh karena itu Al-Firqatun Najiyah disifatkan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan mereka adalah mayoritas terbesar dan As-Sawadullah Al-A'zham.

Berkata lagi beliau 3/347 : Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang paling berhak dijadikan sebagai Al-Firqatun Najiyah adalah Ahlul Hadits dan As-Sunnah yang tidak memiliki satu tokohpun yang diikuti secara fanatik kecuali Rasulullah sedangkan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui ucapan dan perbuatan Rasulullah, yang paling dapat membedakan yang shahih dan yang lemah dari hal tersebut sehingga para imam mereka adalah orang-orang yang faqih dan paling mengenal makna hadits-hadits tersebut dan paling mengikutinya secara keyakinan, amalan, kecintaan dan memberi loyalitas kepada orang-orang yang memiliki loyalitas kepadanya dan membenci orang yang membencinya, merekalah orang-orang yang mengembalikan perkataan-perkataan yang tidak pasti kepada apa yang ada didalam Al-Kitab dan As-Sunnah sehingga mereka tidak menetapkan satu perkataan lalu menjadikannya termasuk pokok-pokok agama dan pendapat mereka jika tidak ada ketetapannya pada apa yang telah dibawa Rasulullah bahkan menjadikan semua yang dibawa Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai pokok (sumber) yang mereka yakini dan sandari.


Antara Ahlus-Sunnah Wal Jamaah Dan Salafiyah

Banyak dari kalangan kelompok Ahlul Bid'ah dan golongan-golongan sesat yang menggunakan nama Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah untuk menyimpangkan orang-orang awam dari dari kaum muslimin dari fitrah mereka.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatwa 3/346 "Banyak orang-orang menyebutkan tentang golongan-golongan ini dengan hukum prasangka dan hawa nafsu lalu menjadikan kelompoknya dan orang yang menisbatkan dirinya dan memberikan loyalitas kepada tokoh pemimpin yang diikutinya adalah ahlus-Sunnah Wal Jama'ah dan menjadikan orang-orang yang mnyelisihinya sebagai Ahlul Bid'ah, hal ini merupakan kesesatan yang nyata, karena ahlul Haq was-Sunnah Wal Jama'ah tidak punya panutan kecuali Rosulullah Shalallahu 'Alaihi wasalam ".

Sebagian mereka memasukan kelompok Asyariyah sebagai bagian dari Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qahir bin Thoohir Al Baghdadiy wafat tahun 429 H dalam Al Farqu Bainal Firaq hal.313, dalam perkataannya :"Ketahuilah semoga Allah subhanuhu Wa Ta'ala memberikan kebahagian kepada kalian -Sesungguhnya ahlus-Sunnah Wal Jama'ah ada delapan kelompok :

Sekelompok mereka memiliki ilmu tentang bab-bab pembahasan tauhid dan nubuwah, hukum-hukum Alwa' wal Wa'id, pahala dan dosa, syarat-syarat ijtihad, keimamahan dan kepemimpinan dan mereka ini berjalan pada bidang dari ilmu ini jalannya saufatiyah (orang yang menetapkan sifat) dari kalangan ahlil kalam yang berlepas diri dari Tasybih dan Ta'thil dan dari kebida'han Rafidhoh, Khawarij, Jahmiyah dan An-Najariyah dan seluruh ahli hawa yang sesat.

Sebagian mutaakhirin menyangka bahwa umat Islam telah menyerahkan kepemimpinannya dalam masalah aqidah kepada Asy'ariyah dan Maturidiyah, berkata Sa'id hawa dalam kitab Jaulatun Fil Fiqhaini hal. 22, 66, 81 dan 90 : " Dan umat ini telah menyerahkan permasalahan i'tiqad kepada dua orang yaitu Abul Hasan Al-Asy'ariy dan Abu Manshur Al Maturidiy" dan berkata Azzabidiy dalam kitab Ithaafis Saadatil Muttaqiin (2/6):" Jika disebutkan Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah yang dimaksud adalah Asy'ariy dan Maturidiyah..."

Akhirnya istilah Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah telah menjadi longgar yang masuk padanya orang-orang yang memiliki penyimpangan dalam aqidah khususnya masalah sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, oleh karena itu sepatutnya menggunakan kata Salafiyah untuk menunjukan Al-Firqatun-Najiyah, Ath-Thoifah Al-Manshurah, Al-Ghuraba dan Ahlil Hadits.

Sebagian Dai yang tetap terus menggunakan kata Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah berkata : Apa pendapatmu jika ada beberapa kaum lalu mengaku Salafiyah sedang mereka dari kelompok-kelompok yang menyimpang, apakah kamu akan meninggalkan kata Salafiyah dan menggantinya dengan yang lain ?
Jawabannya dari beberapa sisi:
  1. Anggapan ini menghasilkan mata rantai yang tidak ada ujungnya. maka hal itu bathil.
  2. Ini merupakan anggapan (hipotesa) pada permasalahan yang belum terjadi lagi sedangkan para Salaf membenci pertanyaan tentang perkara-perkara yang dianggaop ada dan masalah-masalah khayalan pemikiran.
  3. Klaim (pengakuan) kelompok-kelompok ini yang belum kita lihat dan belum kita dengar terhadap manhaj Salaf merupakan benturan terhadap pemikiran-pemikiran mereka karena manhaj Salaf mengharuskan pengikutnya untuk mengikuti jalannya para sahabat, hal ini tampak jelas dengan keterangan berikut :
  4. Semua kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Ahlus-sunnah wal Jama'ah tidak ada yang berani mengatakan : Saya Salafiy.
Kelompok-kelompok yang terkenal dengan kebidahannya tidak ada yang mengaku bermadzhab Salaf dan mengikuti ajarannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu Faatwa 4/155 : " Yang dimaksud disini bahwa kelompok-kelompok yang terkenal  di antara Ahlus-Sunnah Wal Jama'ah yang memiliki kebidahan sesungguhnya tidaklah mengikuti ajaran Salaf, apalagi kelompok ahlul bid'ah yang termasyhur yaitu Rafidah, sampai-sampai orang awam tidak mengenal syiar kebidahan kecuali Rafidhah, sedangkan sunniy dalam istilah mereka adalah orang yang tidak syiah dan demikianlah karena mereka paling menyelisihi hadits-hadits nabi dan makna Al-Qur'an dan yang paling mencela Salaf umat ini dan para imamnya serta melecehkan mayoritas umat dari macam-macam kelompok, sehingga ketika mereka semakin jauh dari mengikuti salaf maka yang paling masyhur dalam kebid'ahan. Sehingga diketahui bahwa syiar ahlul bid'ah adalah tidak mengikuti ajaran mengikuti salaf, oleh karena itu berkata Imam Ahmad dalam Risalah Abdus bin Malik : Ushul As-Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang difahami para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kemudian berkata lagi (4/156) : "Adapun (anggapan) ajaran salaf termasuk menjadi syi'ar Ahlul Bid'ah maka itu satu kebatilan karena hal itu tidak mungkin kecuali ketika kebodohan meraja lela dan ilmu sedikit".
Oleh karena itu kita berbahagia dari balik keterus terangan ini sebagai langkah awal kepada dakwah Salafiyah yang tegak di atas Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih dengan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih untuk memasukkan kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada imam yang empat dalam fiqih (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i dan Ahmad (pent)) kedalam ruang lingkup Ahlus Sunnah Wal Jama'ah...Sedangkan yang tersembunyi biarlah sembunyi.

Wednesday, June 1, 2011

Ahli Hadits

Pembahasan "Ahli Hadits" dilihat dari beberapa sisi :

Pertama.
Kesepakatan ahlil ilmu dan iman dalam menafsirkan Al-Firqayun Najiyah dan Ath-Thoifah Al-Masnhurah dengan Ahlil Hadits.

Ketahuilah wahai pencari kebenaran, sesungguhnya para Ulama telah bersepakat pendapat bahwa Ahlil Hadits adalah Ath-Thoifah Al-Manshurah dan Al-Firqatun Najiyah.

Disini saya paparkan di hadapanmu sejumlah besar dari mereka sehingga kamu tidak akan mendapatkan jalan kecuali mengikuti jalan mereka dan meniti jejak langkah mereka serta mengikuti pemahaman mereka. Karena merekalah pembawa agama Rabb semesta alam yaitu orang-orang yang berbicara dengan apa yang disampaikan Al-Kitab dan menegakkan apa yang ditegakkan oleh As-Sunnah. Barangsiapa yang tidak mengikuti jalan mereka berarti telah memperbodoh diri mereka sendiri.

[1] Abdullah bin Al-Mubaarok, wafat tahun 181H
[2] Ali bin Almadiniy, wafat tahun 234H
[3] Hamad bin Hambal, wafat tahun 241H
[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhariy, wafat tahun 256H
[5] Ahmad bin Sinaan, wafat tahun 258H
[6] Abdullah bin Muslim, wafat tahun 267H
[7] Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, wafat tahun 276H
[8] Muhammad bin Hibban, wafat tahun 354H
[9] Muhammad bin Al-Husein Al-Ajuriy, wafat tahun 360H
[10] Muhammad bin Abdullah Al-Hakim An-Naisaaburiy, wafat tahun 405H
[11] Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Khotib An-Naisaaburiy, wafat tahun 463H
[12] Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawiy, wafat tahun 516H
[13] Abdurrahman bin Al-Jauziy, wafat tahun 597H
[14] Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy, wafat tahun 676H
[15] Ahmad bin Abdil Halim bin Taimiyah Syaikhul Islam, wafat tahun 728H
[16] Ishaaq bin Ibarahim Asy-Syaatibiy, wafat ahun 790H
[17] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqaalaaniy, wafat tahun 881H [1]

Semua iman-imam tersebut -dan yang lainnya pun banyak- telah menegaskan bahwa Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thoifah Al-Manshurah adalah Ahlil Hadits dan tidaklah tersesat orang yang mengambil teladan perkataan dan meniti jejak langkah mereka. Bagaimana tidak, sedang mereka adalah satu kaum yang tidak memcelakakan orang-orang yang duduk bersamanya.

An-Nawawiy telah menukilkan kesepakatan ahli ilmu dalam hal ini dalam kitabnya Tahdzib Al-Asma' wal Lughat, lalu berkata ; padahal mereka sendiri memiliki keutamaan yang besar dan dalam menjaga ilmu merupakan bukti kebesaran, sehingga dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran tidak merugikannya orang yang menghina"
Seluruh ulama atau mayoritasnya berpendapat bahwa mereka adalah pemikul ilmu.

Kedua.
Siapakah Salaf Ahli Hadits ?

Mereka adalah orang yang berjalan di atas manhaj para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam berpegang teguh terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah serta mendahulukannya atas sekalian pendapat baik dalam aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik atau perkara apa saja dari perkara-perkara kehidupan yang kecil ataupun yang besar.

Dan mereka adalah orang-orang yang komitmen (kokoh pendiriannya) dalam pokok-pokok agama dan cabangnya di atas wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan kepada hamba dan RasulNya serta orang pilihan dari makhlukNya Muhammad bin Abdillah.

Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan dakwah kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, -baik perkataan, amalan maupun perbuatan- dengan segala kesungguhan, tekad, jujur dan istiqomah.

Merekalah orang-orang yang menghunus pedang ilmu dan menegakkan kebenaran yang telah asing sebagai upaya untuk menghilangkan penyimpangan orang-orang yang keterlaluan, ajaran orang-orang yang sesat dan ta'wilnya orang-orang bodoh dari agama dan pemeluknya.

Mereka orang-orang yang berjihad menhadapi semua kelompok-kelompok yang telah menyimpang dari manhaj para sahabat baik dia itu Mu'tazilah atau Khawarij atau Syi'ah Rafidhah atau Murji'ah atau Shufiyah atau Bathiniyah dan semua orang yang menimpang dari petunjuk dan mengikuti hawa nafsu pada setiap zaman dan tempat tidaklah mereka menghiraukan celaan orang yang mencela dalam hal itu.

Merekalah orang-orang yang bergerak mewujudkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" [Ali-Imron : 103]

Merekalah orang-orang yang mempraktekkan firman Allah Subhnahu wa Ta'ala :

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih" [An-Nur : 63]

Dan firman-Nya.

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka" [Al-Ahzab : 36]

Sehingga mereka menjadi orang yang paling jauh dari menyelisihi perintah Allah Subhnahu wa Ta'ala dan RasulNya dan menjadi orang yang paling jauh dari fitnah-fitnah yang tampak atau yang tidak tampak.

Merekalah orang-orang yang menjadikan jalan hidup mereka.

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" [An-Nisaa : 65]

Sehingga mereka mengagungkan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah dengan benar dan mengedepankannya atas semua perkataan manusia, berhukum kepadanya dengan penuh keridhoan dan kelapangan dada tanpa ada kesempitan dan keengganan. Mereka berserah diri penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan semua sisi kehidupan mereka.

Salaf Ahli Hadits dengan makna ini sangat luas cakupannya, sampai mencakup ribuan para Ulama amilin (yang beramal dengan ilmunya) yang telah termuat nama-nama mereka di dalam catatan sejarah dan buku-buku telah penuh dalam menyebut mereka. Mereka telah mengangkat kejayaan zaman dengan ilmu, keutamaan dan amal mereka.

Barangsiapa yang ingin mengetahui hakekatnya tidak ada pilihan baginya kecuali kembali kepada buku-buku dan karya-karya yang ada, dan disini saya jelaskan tingkatan-tingkatan mereka (thabaqat mereka) :

Mereka para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seluruhnya yang telah beriman, melihat beliau dan mati dalam keadaan Islam, diantara tokoh-tokoh mereka Al-Khulafa'ur Rasyidin, kemudian sepuluh orang yang telah dipersaksikan sebagai ahli syurga.

Mereka tokoh-tokoh tabi'in, diantara tokoh-tokoh mereka Uwais Al-Qorniy, Said bin Al-Musayyib, Urwah bin Az-Zubair, Saalim bin Abdillah bin Umar, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud, Muhammad bin Al-Hanafiyah, Ali bin Al-Hasan Zainal Abidin, Al-Qaasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, Al-Hasan Al-Bashriy, Muhammad bin Sirin, Umar bin Abil Aziz dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhriy.

Mereka Atbaut Tabi'in, diantara mereka tokoh-tokoh mereka Malik bin Anas, Al-Auzza'iy, Sufyan Ats-Tsauriy, Sufyan bin Uyainah Al-Hilaliy dan Al-Laits bin Saad.

Kemudian orang yang mengikuti mereka, diantara tokoh-tokoh mereka Abdullah bin Al-Mubaarok, Waki', Asy-Syafi'i, Abdurrahman bin Mahdiy dan Yahya bin Said Al-Qathan.

Kemudian para murid mereka yang mengikuti manhaj mereka, diantara tokoh-tokoh mereka Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan Ali bin Al-Madiniy.

Kemudian murid-murid mereka, diantara tokoh-tokoh mereka Al-Bukhariy, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur'ah, At-Tirmidiziy, Abu Daud dan An-Nasa'i.

Kemudian orang-orang yang berjalan dengan jalan mereka selanjutnya dari generasi-generasi yang menyusul mereka seperti Ibnu Jarir Ath-Thabariy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Qutaibah Ad-Dainuriy, Al-Khatib Al-Baghdadiy, Ibnu Abdil Barr An-Namiriy, Abdul Ghaniy Al-Maqdisiy, Ibnu Ash-Sholaah, Ibnu Taimiyah, Al-Mizziy, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabiy, Ibnul Qayim Al-Jauziyah dan Ibnu Rajab Al-Hambaliy.

Kemudian orang yang menyusul dan mengikuti jejak langkah mereka dalam bepegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman para sahabat sampai tegaknya hari kiamat dan orang yang terkahir dari mereka memerangi Dajjal. Mereka inilah yang kami maksudkan dengan As-Salaf Ahlul Hadits.

Dan tidak diragukan lagi bahwa penisbatan ini tidak dianggap benar kecuali kalau amalan orang yang mengakunya sesuai dengan manhaj Nabi.

Apakah terbayangkan dalam pikiran seorang yang berakal bahwa penisbatan ini adalah omong kosong ? atau diragukan ? atau ada tapi sekedar pengakuan ? atau tidak jelas manhajnya tergantung hawa nafsu pengikutnya.

Penisbatan ini megharuskan orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya untuk benar-benar ber-Islam sebagai bukti kebenaran pengakuannya sehingga pengakuannya betul-betul benar. Siapapun juga di sepanjang kurun waktu dan pergantian generasi yang ada tidak akan benar penisbatannya kepada Ahlul Hadits ini kecuali dia bersesuaian dengan manhaj nabawi dalam aqidah, suluk dan ibadahnya dan tidak mengerjakannya kecuali dari itu dan tidak tunduk kecuali kepadanya sampai dia menjumpai Rabbnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati Ibnu Taimiyah yang telah mejelaskan seluruhnya dalam kata-kata yang indah dalam Majmu' Fatawa 4/95, beliau berkata : Dan kami tidak memaksudkan dengan Ahlul Hadits hanya terbatas pada mendengar, menulis atau meriwayatkan hadits akan tetapi kami maksudkan dengan mereka adalah setiap orang yang benar-benar menjaga hadits, mengenal dan memahaminya serta mengikutinya secara lahir dan batin, dan demikian juga Ahlul Qur'an. Mereka paling tidak memilki sifat mencintai Al-Qur'an dan As-Sunnah, meneliti dan mengenal makna-maknanya serta beramal dengan apa yang telah mereka ketahui dari konsekwensi-konsekwensinya, sehingga Ahlul Fiqih dari Ahlul Hadits lebih mengetahui Rasulullah dari Ahlul Fiqih lainnya, shufinya [Bukanlah maksudnya shufi-shufi sebagai satu kelompok yang memiliki aqidah dan pemikiran yang menyimpang dari Islam sebagaimana telah ada penjelasannya dalam kitab saya Al-Jamaat Al-Islamiyah fi Dhuil Kitab Was Sunnah bi Fahmi Salaful Umat hal.82-152 dan yang dimaksud adalah Az-zuhad (orang-orang zuhud) Wallahu 'alam] mereka lebih mencontoh Rasulullah dari pada shufi-shufi yang lainnya dan para penguasa mereka lebih pantas berpolitik nabawi daripada yang lainnya serta orang awam mereka lebih loyal (wala') kepada Rasulllah dari yang lainnya.

Loading



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More